Sebuah akun Twitter menulis ribuan cuitan selama hampir tiga tahun tanpa ada yang menanggapi. Lalu datang Juli 2026, dan semuanya berubah. Ini ceritanya, dibaca lewat angka.
Kalau kita bongkar semua cuitan akun ini, isinya terbagi tiga. Ada balasan, yaitu komentar yang dia tulis di bawah postingan orang lain. Ada retweet, yaitu postingan orang lain yang dia bagikan ulang tanpa menulis apa pun. Dan ada posting asli — cuitan yang benar-benar dia karang sendiri dan berdiri sendiri.
Ternyata yang terakhir ini jumlahnya paling sedikit.
Aktivitasnya juga tidak rata. Ada bulan penuh ketika akun ini benar-benar bisu — tidak sekali pun mencuit. Sebaliknya, ada satu bulan yang sendirian menampung hampir separuh isi arsipnya.
Selama bertahun-tahun, isi akun ini nyaris seragam: mata uang kripto, token, dan "airdrop" — istilah untuk bagi-bagi koin gratis yang biasanya mengharuskan orang mengikuti akun tertentu atau menyebarkan promosinya. Lalu tema itu menghilang. Gulir ke bawah untuk melihat perjalanannya tahun per tahun.
Yang paling mencolok bukan pergantian temanya, melainkan tanggapan yang diterimanya. Selama tiga tahun pertama, akun ini praktis tidak terlihat siapa pun.
Tiap cuitan dibaca mesin, dicari kata-kata khasnya, lalu dimasukkan ke kelompok yang paling cocok. Cuitan yang tidak memuat satu pun kata penanda tema masuk kelompok "tak bertema". Kelompok terakhir inilah yang justru paling besar.
Jadi angka tema di atas sebaiknya dibaca begini: akurat untuk yang berhasil dikenali, tapi hanya menjangkau sepertiga arsip. "3% politik" bukan berarti dia jarang bicara politik — melainkan hanya 3% yang bisa dibuktikan lewat kata-katanya sendiri.
Sebelum Juli 2026, menulis di akun ini nyaris sama dengan berbicara di ruangan kosong. Angka-angka berikut dihitung hanya dari tulisannya sendiri — balasan dan postingan yang dibagikan ulang tidak ikut, supaya perbandingannya adil.
Cara membaca angka "biasanya": kalau semua postingnya diurutkan dari yang paling sepi sampai paling ramai, itulah yang persis di tengah. Artinya separuh postingannya bahkan lebih sepi dari itu.
Ini postingan dengan suka terbanyak sepanjang arsip. Perhatikan tanggalnya — hampir semuanya berdesakan di bulan yang sama.
Sekarang kita geser dari isi cuitan ke orang-orang di sekitarnya. Di sinilah muncul hal-hal yang paling ganjil.
Sedikit bekal dulu. Centang di Twitter sekarang bukan lagi tanda "tokoh terkenal" seperti dulu. Centang biru berarti akun itu membayar langganan bulanan — siapa pun bisa. Centang emas untuk akun perusahaan, dan centang abu untuk lembaga pemerintah. Jadi centang menunjukkan siapa yang membayar, bukan siapa yang tepercaya.
Kalau akun-akun di sekelilingnya dikelompokkan menurut kapan mereka dibuat, muncul lengkungan aneh: kelompok yang paling banyak jumlahnya justru paling sedikit yang berlangganan, sementara pendatang paling baru hampir semuanya berlangganan.
Akun-akun yang dia ikuti terbelah tajam: segelintir raksasa dengan jutaan pengikut, dan ribuan akun kecil biasa. Rata-ratanya jadi tidak berarti apa-apa.
Sampai di sini kita baru melihat daftar: siapa mengikuti siapa. Sekarang kita lihat percakapannya. Tiap kali dia menyebut dua akun sekaligus dalam satu cuitan, dua akun itu kita hubungkan. Lakukan itu untuk seluruh arsipnya, dan muncul peta pergaulan yang sebenarnya — bukan siapa yang dia ikuti, melainkan siapa yang benar-benar dia ajak bicara, dan siapa saja yang sering muncul berbarengan.
Di sinilah hal paling ganjil muncul. Ingat, akun bercentang biru adalah akun yang membayar langganan — dan di seluruh Twitter jumlahnya kurang dari 1 dari 100 pengguna.